Tampilkan postingan dengan label Pasar Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar Daerah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Februari 2015

PASAR SAMBI KEDIRI

Pasar sambi,
Liburan 3 haPASAR SAMBI KEDIRIri kemarin sebenarnya aku tidak berencana kemana-mana, hanya ingin melepas kangen ama mama dan kota kediri tercinta. Tapi diluar rencana kakakku yang juga mudik tiba-tiba mengajak kami menemani dia dan istrinya menghadiri resepsi salah satu temannya di blitar maka jadilah kami sekeluarga beramai-ramai piknik ke Blitar.

PASAR SAMBI
 Kami sengaja berangkat jam 9 pagi dari rumah.Mulai keluar dari kota kediri kami sering mengomentari suasana dan tempat-tempat yang mengingatkan kami pada masa lalu.Seperti saat lewat daerah Jimbun (antara Blabak dan Kandat),
 kami jadi ingat penjual sayur gendong yang dulu biasa lewat di depan rumah kami dan perempuan itu berasal dari daerah ini.Padahal daerahnya lumayan jauh tapi dulu ia biasa berjualan dengan berjalan kaki.Bagaimana kabar perempuan itu saat ini terus terang kami sudah ga mengerti karena sudah tidak pernah lewat lagi.


Memasuki wilayah Sambi, kami juga mengomentari becak motor yang tampaknya mulai populer digunakan sebagai transportasi umum di daerah tersebut.Sepertinya udah niru daerah kertosono nih dimana keberadaan becak motor sudah lebih mendominasi dibanding becak biasa. Sebelum pasar Sambi aku melihat di kiri jalan ada lesehan mbok Sri.Seingatku aku pernah diajak om dan tanteku makan di tempat ini bertahun-tahun yang lalu.Sepertinya tempatnya tidak berubah masih mirip yang dulu dimana orang-orang bisa makan lesehan tapi ada beberapa meja kecil yang disediakan untuk pembeli menempatkan makanan.Jika belum berubah, menu andalannya adalah nasi pecel.tapi ia menawarkan berbagai lauk pauk sebagai pelengkapnya, pokoke komplit plit. Kalau dulu sih rasanya enak, sekarang aku tidak tahu. Lepas dari Kediri kami memasuki wilayah Udan awu yang berarti sudah memasuki kabupaten Blitar.Bicara udanawu yang berarti hujan abu maka mau tak mau biasa dikait-kaitkan dengan gunung kelud

.Daerah ini termasuk wilayah yang biasa jadi korban jika gunung kelud meletus, tak hanya hujan abu saja seringnya jadi jalan lahar pula. Selanjutnya kami memasuki wilayah Srengat.Kalau ngomongi Srengat pasti orang bakal ingat dengan bakso kikilnya.
Bakso Kikil khas Srengat memang terkenal dan sudah banyak membuka cabang di berbagai kota. Meski di Srengat kelihatan banyak penjual bakso kikil tapi aku belum tahu yang paling ngetop yang mana. Aku pernah makan bakso kikil Srengat di Kediri dan di Blitar. Isinya bakso dan potongan kikil yang buanyak. Jika ditambah mi, hampir mirip deh ama mi kocok Bandung.

Rasanya lumayan enak. Tapi jika punya tensi tinggi jangan coba-coba makan kalau ga pingin pusing. Sepanjang jalan antara Srengat dan Blitar, cukup banyak warung yang menjual es dawet serabi.
Harga yang ditawarkan cukup murah Rp.1500,00. Menurut info yang kuterima es dawet serabi ini isinya dawet, potongan serabi dan agar-agar. Bagaimana rasanya, mohon maaf aku belum coba.

Memasuki kota Blitar kami sibuk mengamati penunjuk arah. Ternyata tempat yang kami tuju bukan di dalam kota tapi harus jalan lagi ke daerah Lodoyo. Kami sempat melewati alun-alun yang jadi kebanggaan warga Blitar. Seperti kota-kota keci lainnya, di dekat alun-alun pasti ada masjid agung dan kantor pemerintahan. Untuk kota Blitar, dalam alun-alunnya cukup bersih, rumputnya kelihatan hijau terawat. Pohon beringinnya masih banyak dan kokoh berdiri.
Di sisi luar alun-alun, banyak penjual makan dan minuman. Di kota Blitar makanan yang jadi andalannya adalah pecel. Pecel Blitar cukup dikenal sampai kemana-mana.Yang membedakan adalah disini teman makan pecel bukan saja nasi tetapi orang biasa memakannya dengan punten. Jadi namanya pecel punten. Punten ini hampir mirip getuk, warnanya putih dan rasanya asin. Biasanya jika makan pecel ini dengan menggunakan berbagai macam sayuran macam kecambah, bunga turi, ndoyo (ketimun rebus), dan kangkung atau bayam dan dengan lauk rempeyek. Terus terang dimana tempat warung makan pecel punten yang enak di Blitar saya belum tahu.
Menu pecel punten bisa kujelaskan sebab di kediri ada beberapa penjual keliling yang juga menjual pecel punten seperti itu. Sedangkan minuman yang tampak banyak dijual di Blitar adalah es pleret. Sekali lagi aku mengaku belum sempat mencicipi es pleret di Blitar. Mungkin bentuknya sama seperti es pleret yang pernah kuminum di Solo yaitu seperti bola-bola bakso tapi kopong tidak ada isinya, berwarna merah dan putih dan disajikan dengan santan dan sirup gula merah. Kami sempat melewati pusat pertokoan di dalam kota Blitar.
 Sepertinya kota ini masih belum punya pusat perbelanjaan besar seperti Sri Ratu atau Matahari. Jadi mereka hanya mengandalkan toko-toko kecil dan beberapa toserba yang agak besar. Suasana dalam kota ini masih tenang, belum tampak kemacetan.Cocok bila dijuluki kota pensiunan.hehehe. Kami pun melaju menuju Lodoyo.Ternyata lokasinya masih agak jauh dari kota Blitar.Bahkan lebih mendekati arah laut selatan.
 Menuju lodoyo, kami sempat melihat penunjuk arah PLTA Jegu dan pantai Serang.Untungnya kami memperoleh info terpercaya sehingga tidak nyasar dan sampai ke tempat kondangan.Setelah sempat menikmati jamuan makan prasmanan, kami pun langsung pulang. Kami sempat mampir ke sebuah toko kerajinan yang ada di Lodoyo karena kakak iparku ingin membeli dua buah bola sepak takraw untuk oleh-oleh buat keponakannya di Jakarta. Ternyata harganya juga standard alias tidak murah untuk ukuran pelosok desa.
Dalam perjalanan pulang kami sempat hampir salah mengambil jalan dari Blitar yang ke arah Tulung Agung. Untungnya kami segera menyadari dan memutar balik dan kembali ke arah menuju kediri. Alhamdulillah pukul 2 siang kami sudah bisa sampai dengan selamat di rumah.

Senin, 11 Agustus 2014

Semangat Warga Pujon di (Sub Terminal ) Agrobisnis Mantung

Aktifitas petani sayur di Sub Terminal Agrobisnis Mantung kemarin. (Bagus Ary Wicaksono/Malang Post)
Aktifitas petani sayur di Sub Terminal Agrobisnis Mantung kemarin. (Bagus Ary Wicaksono/Malang Post)

Berdiri diatas bukit kecil dataran tinggi Malang Barat, tepatnya di wilayah Kecamatan Pujon. Sub Terminal Agrobisnis Mantung mampu mendunia-kan komoditas sayur mayur dan holtikultura hasil bumi petani lokal. Selain memenuhi kebutuhan pasar regional dan nasional, komoditas dari Mantung juga menyeberang ke Singapura dan Malaysia.
Keberadaan Sub Terminal Agrobisnis Mantung berawal dari kepekaan Pemerintah Kabupaten Malang atas eksistensi pedagang sayur di kawasan Pujon. Para pedagang sayur dan Holtikultura tersebut biasa mangkal di timur jembatan Desa Mantung, kurang lebih sekitar 100 meter dari Wisata Pemandian Dewi Sri.
Perputaran uang di tempat itu begitu cepat, hanya saja belum memberi sumbangsih bagi Pendapatan Asli Daerah. Malah, kawasan tersebut kemudian tumbuh menjadi titik kemacetan jalan jurusan Malang-Kediri. Pasalnya, hampir seluruh hasil bumi masyarakat Malang Barat termasuk Kota Batu pada saat itu, berdatangan ke Mantung.
Pemkab Malang melihat sentra sayur dan holtikultura tersebut sebagai sebuah potensi. Walhasil, melalui perencanaan matang akhirnya berdiri sebuah Sub Terminal khusus Argobisnis. Pasar Sayur dan Holtikultura tersebut berdiri di sebuah bukit kecil dataran tinggi Malang Barat.
Lokasi itu merupakan tanah desa (kas desa) yang kemudian disulap sebagai sentra sayur dan Holtikultura. Selain mengurangi kemacetan, berdirinya pasar Agribisnis itu juga memberi nafas panjang bagi para petani dan pedagang. Para petani memperoleh harga tawar dalam menjual produknya, sementara para pedagang bisa memperluas pasar hingga tingkat regional dan nasional.
Malah setelah dilengkapi internet, komoditi Pasar Holtikultura itu merambah dunia internasional. Asal tahu saja, produk Mantung telah menyeberang ke Singapura dan Malaysia. Disisi lain keberadaannya, mampu menjadi penyanggah kebutuhan sayur dan Holtikultura Pulau Kalimantan, Bali, Jawa dan Sumatera.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pasar Pemkab Malang, M. Syakur Kullu mengatakan keuntungan petani naik dari kisaran 15 persen menuju 25 sampai 45 persen. Selebihnya, keuntungan dimiliki sekitar 68 pedagang serta pembeli dari regional, Nasional hingga Internasional. Sedangkan, Pemkab Malang memperoleh Pendapatan Asli Daerah, sekitar 125 juta pertahun.
“Karena pasar Mantung berdiri diatas kas desa, maka pendapatannya dibagi dua, desa dengan Pemkab Malang. Komposisi pembagiannya 40 persen untuk desa dan 60 persen bagi Pemkab Malang,” tutur Syakur.
Salah satu keunggulan Sub Terminal Agrobisnis Mantung, yakni harga komoditi jualnya selalu di update setiap saat. Sentra sayur dan Holtikultura itu dilengkapi sistem internet sehingga perubahan harga bisa diakses setiap saat. Sebagai sentra yang tumbuh dari pasar Tradisional, komoditi yang dimiliki STA Mantung tergolong cukup lengkap.
Antara lain Andewi, Bawang Merah(Philipina), Bawang Merah (Bali Jumbo), Bawang Merah (Bali Biasa), Bawang Prei, Bayam Merah, Brokoli, Buncis, Buya Kol, Cabe (TW), Cabe (Lokal), Cabe (Rawit), Kacang Panjang, Kapri, Kentang (Atlantik), Kentang (Granola), Kentang, Kol/Kubis, Lobak, Manisa, Paprika, Sawi Daging, Sawi Putih, Seledri, Terung.
“Per hari STA Mantung mampu memproduksi 100 sampai 150 ton sayur dan holtikultura. Tahun 2009, KPDE berencana menambah sistem internet di Pasar Mantung,” pungkas Syakur.(ary/adv/eno) (Ary Wicaksono/malangpost)
Keywords: , , , , 

Minggu, 10 Agustus 2014

PASAR BUAH DAN SAYUR NGRONGGO SALAH SATU ASET BESAR KOTA KEDIRI YANG MERANA

KEDIRI,HAPRA Indonesia – Keberadaan pasar tradisional atau sejenisnya di era sekarang kian terjepit seiring perkembangan zaman dengan bisnis retel dan waralaba yang kian mengurita di mana-mana.
    Sedangkan di sisi lain ada pasar dengan potensi sangat besar tersia siakan atau dengan kata lain, keberadaan pasar tersebut tidak di kelola sebagai mana mestinya, padahal bila di kelola atau penataan dengan baik,  maka akan dapat menyumbang pemasukan PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang cukup besar bagi untuk Pemerintah daerah tersebut.
    Ada beberapa pasar yang berada di wilayah kota Kediri yaitu, Pasar hewan, pasar bawang, pasar bandar, pasar Mrican dan yang terbesar pasar Ngronggo. 
    Hal tersebut seperti yang terjadi di pasar Ngronggo yang letaknya masuk Kelurahan Ngronggo Kecamatan Kota Kediri, Pasar Ngronggo memiliki luas bangunan kurang lebih 3 hektar, dengan kurang lebih 350 bangunan.
    Pasar Ngronggo yang mempunyai potensi yang sangat besar namun karena tidak adanya pengelolan yang baik dari Pemerintah Kota Kediri maka nasib Pasar Ngronggo ibarat sapi perahan belaka bagi Pemkot Kediri.
    Ada banyak permasalahan yang terjadi di pasar Ngronggo, seperti perubahan dari pengelolan pasar Ngronggo dalam bentuk Perusahaan Daerah (PD) yang sampai sekarang masih belum ada serah terima aset meski pasar Ngronggo sekarang  dalam pengelolaan Perusahaan Daerah.
    Selain itu sistem kelola pasar ngronggo yang di rasa oleh para pedagang pasar Ngronggo  amburadul, itu di buktikan dengan semrawutnya keberadaan para pedagang yang tidak mempunyai kios.
    Para pedagang yang tidak mempunyai kios “menguasai” dengan menggelar dagangannya di luar tempat yang tidak semestinya. Pedagang “liar” tersebut kebanyakan adalah warung makanan dan minuman yang menempati tempat tempat keramaian sehingga akses jalan menjadi terhambat dan terlihat semrawut dan kumuh.
    Akibatnya pasar jadi semrawut karena tidak adanya penataan yang baik. Dari keberadaan pedagang “liar” tersebut mengakibatkan pedagang “Asli” yang menempati beberapa kios yang menjual makanan  menjadi tidak laku dan akibatnya pedagang tersebut rugi dan memilih tidak berjualan lagi.
    Orang orang yang berlanja di pasar lebih menyukai membeli di warung “liar” tersebut karena tempatnya lebih dekat dari akses jalan.
    Padahal di Perwali (Peraturan walikota) no 23 tahun 2005 jelas jelas di sebutkan tidak di perbolehkan berjualan di luar area kios, namun hal itu seolah  tidak di gubris oleh pihak Perusahaan Daerah Pasar , pihak Perusahaan Daerah seolah tutup mata dan tidak perduli dengan banyaknya kios warung yang mati.
    Menurut sumber HAPRA, jumlah warung di Pasar Ngronggo ada sekitar 24 sampai 25, dan yang ironis 40 % diantaranya mati, tentu ini menjadi bahan pertanyaan karena kios kios tersebut menjadi mangkrak.
    Belum lagi masalah pedagang liar terselesaikan, Perusahaan Daerah Pasar terbentur masalah lain yang terkait Pasar Ngronggo.  Di sisi lain dalam penataan pasar Ngronggo tersebut juga di atur tata ruang kios di dalam Peraturan Walikota (Perwali) nomer 23 tahun 2005, di pasar terbesar di kota Kediri tersebut kios tidak tertata.
    Menurut sumber HAPRA para pedagang sayur, buah  dan warung sudah ada aturan penataannya menurut typenya, yaitu ukuran 3X4 untuk para pedagang yang berjualan untuk warung, kemudian ukuran 4x5 untuk pedagang yang berjualan Sayur dan ukuran 4x6 untuk pedagang yang berjualan buah buahan.Sedangkan para pedagang perkios di kenakan karcis sebesar Rp 2400.
    "Menurut Perwali tersebut semua harus sendiri sendiri sesuai blok, tidak seperti sekarang campur aduk tidak tertata, pedagang buah harusnya letaknya di kios timur, tapi sekarang ada yang di barat dekat pintu masuk, itukan mematikan pedagang yang lain" jelas sumber itu.   
    Dari semua permasalahan Pasar Ngronggo hal paling krusial adalah di duga kuat pasar Ngronggo mengalami kebocoran restribusi yang sangat signifikan, dan yang lebih ironis lagi dari restibusi yang di bayar ke Pemkot Kediri, para pedagang pasar belum merasakan pengembalian mereka dalam membayar restibusi.
    Karena selama itu para pedangan masih merasa tidak nyaman saat mereka menjalankan aktifitasnya saat berjualan di pasar tersebut.
    Pada pukul 4 sampai 5 sore di pos masuk Pasar terjadi pergantian  petugas jaga karcis dengan satpam, jadi petugas penarik karcis diambil alih oleh satpam pasar Ngronggo. Para satpam tersebut berjaga sampai sekitar jam 6 sampai jam 7 pagi, hal tersebut menjadi tanda tanya karena hal tersebut sudah terjadi sejak dulu dan tidak ada sosialisasi terhadap pedagang.
    Sedangkan aktifitas di malam hari di pasar Ngronggo juga sangat tinggi, pasalnya pada malam hari banyak keluar masuk kendaraan besar dan kecil bongkar muat di dalam pasar Ngronggo.
    Sementara itu, restribusi yang masuk tak kalah pasar pendapatannya di banding siang hari, pertanyaannya adalah kenapa satpam yang harus menjadi penarik karcis masuk, padahal kita semua tahu satpam sesuai tupoksinya satpam hanya di latih  yang terkait dengan keamanan saja.
    Di sisi lain Pantauan HAPRA di lapangan memang pasar Ngronggo terlihat kumuh dan semrawut, dan pedagang yang di temui HAPRA mengeluhkan  orang orang yang tidak mempunyai kios berjualan di emperan kios.
    Jumlah warung yang ada sekitar 25 di perkirakan 40 % warung warung tersebut telah mati atau guling tikar karena kalah laku dengan keberdaan warung liar di sekitar jalan yang memang memudahkan pembeli.
    Kios yang semula warung beralih fungsi menjadi kios buah atau kios sayur sayuran, dengan semua kesemrawutan tersebut tentu akan merugikan pedagang, masih menurut sumber HAPRA pasar Ngronggo sebenarnya adalah pasar grosir tetapi dengan tidak tertatanya kios maka lambat laun menjadi pasar eceran tak ubahnya pasar tradisional sama seperti seperti Pasar Setono Betek atau Pasar Paing. "Dan sekarang pasar Ngronggo tidak layak di sebut pasar Grosir namun pasar eceran" kata salah seorang pedagang dengan kecewa.
    Restribusi yang besar yang di peroleh dari Pemkot Kediri melalui Pasar ngronggo tidak sebanding dengan fasilitas umum yang diterima oleh para Pedagang Pasar Ngronggo.
    Para Pedagang secara umum juga mengeluhkan fasilitas umum yaitu penerangan lampu yang sebagian mati, padahal pasar Ngronggo beroperasi selama 24 jam penuh. Lampu penerangan di dalam pasar banyak yang mati, tanpa alasan yang jelas.
    Para pedagang warung mengeluhkan fasilitas air yang di "kuasai" oleh ponten (petugas penjaga kamar mandi red), pedagang warung menjadi repot karena tidak leluasa mengambil air, padahal air bagi pedagang warung adalah kebutuhan yang sangat vital.
    Pihak Pemkot Kediri tutup mata akan hal tersebut, tentu hal ini patut di sayangkan karena pihak pedangan tentu sangat di rugikan dengan tidak berjalannya bisnis mereka.
    Sementara itu Saiful Yasin Direktur Perusahaan Daerah Pasar Joyoboyo kota Kediri yang membawahi pasar Ngronggo saat di konfirmasi HAPRA tidak berada di tempat, HAPRA di temui stafnya bernama Fero,"Saya tidak berani berkomentar lebih baik konfirmasi langsung Pak Yasin" Katanya.
    Menurut stafnya tersebut Saiful Yasin sedang study banding dan Kunker (Kunjungan kerja) ke Batam bersama anggota Dewan DPRD kota Kediri dan hari senin (26/3) sudah berkantor lagi.
    Ditempat terpisah Kabag Humas dan protokuler Pemkot Kediri Heryadi juga mengaku belum tahu terkait alih jaga dari penjaga Perusahaan Daerah Pasar Ngronggo ke Satpam, "belum tahu saya apa sudah di sosilaisasikan ke pedagang pasar" Ujar Heryadi.
    Heryadi kemudian menelpon ke Saiful Yasin dengan maksud untuk mengkonfirmasi terkait pasar Ngronggo namun sayang yang bersangkutan tidak mengangkat telpon selulernya meski aktif.
    "Nanti saya tanyakan semuanya terkait Pasar khususnya Pasar Ngronggo ke Pak Yasin, sekarang sedang kunker" Lanjutnya.
    Saat di tanya HAPRA mengapa Direktur Perusahaan Pasar daerah Jayoboyo sudah lama berstatus Plt (Pelaksana tugas red), Heryadi mengatakan bahwa untuk menjadi Direktur Perusahaan daerah yang difinitif, Walikota mempunyai dasar dan kopetensi sesuai dengan kopetensi dan kinerjanya.
    Heryadi menambahkan "Kalau pegawai negeri ya sesuai dengan pangkat dan kinerjanya, sedangkan untuk non PNS akan diadakan test khusus yaitu kopetensi dalam bidangnya" Pungkasnya.